ringkasmedia.net, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur didesak untuk menghentikan ketergantungan pada kebijakan teknis di lapangan seperti pembagian kupon, dan sebaliknya segera mendatangi pemerintah pusat membawa data riil demi memperjuangkan penambahan kuota BBM bersubsidi.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menilai kebijakan kupon tidak akan mengatasi antrean jika pasokan BBM dari pusat tetap terbatas. “Intinya adalah ketika ketersediaan BBM itu sesuai. Kalau seandainya kita dapat kuponnya 5.000, BBM-nya tersedia hanya untuk 2.500, kan enggak cukup juga,” ujar Deni.
Akar masalah antrean panjang di SPBU Samarinda bersumber dari ketimpangan antara usulan kebutuhan daerah dan alokasi yang disetujui oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Pertamina.
Deni menjelaskan bahwa alokasi dari pusat kerap dipangkas signifikan, seperti saat daerah mengajukan kuota 500 namun hanya disetujui 300, sehingga pasokan tidak pernah sanggup mengejar kebutuhan warga.
“Kalau kuota yang diberikan kepada Kota Samarinda tidak mencukupi, otomatis antrean akan panjang terus karena berebut untuk mendapatkan kuota BBM,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.
Krisis pasokan ini kian mendesak karena populasi kendaraan di Samarinda telah menembus lebih dari 800 ribu unit dengan pola pengisian ulang setiap dua hingga tiga hari sekali.
Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim diminta menjadikan data jumlah kendaraan serta pola konsumsi ini sebagai senjata utama saat bernegosiasi ke pusat, di samping memperketat pengawasan di SPBU agar Pertalite dan Solar bersubsidi tidak dihabiskan oleh pengetap.
Deni mengingatkan bahwa tanpa tambahan pasokan dari pusat, langkah penataan apa pun di tingkat lokal tidak akan banyak membantu. “Dengan kuota BBM yang ada saja kekurangan kita,” katanya.
Gagasan untuk memperpanjang jam operasional SPBU hingga 24 jam seperti di Pulau Jawa juga dinilai sebagai langkah yang tidak realistis jika akar masalah pasokan BBM belum diselesaikan.
Deni menegaskan bahwa menambah jam layanan SPBU hanya menjadi wacana kosong apabila stok bahan bakar di dalam tangki sudah habis sejak siang hari.
“Kalau kita mengadakan sampai 24 jam kalau kuota BBM nggak ada mau ngapain? Apa yang mau kita isi?” pungkas Deni.(RHM)

0 Komentar