ringkasmedia.net, Samarinda – Penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh kembali diberlakukan bagi para siswa di Kota Samarinda sebagai bentuk penyesuaian atas buruknya pencemaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kebijakan darurat tersebut diambil dengan menempatkan faktor keselamatan fisik seluruh peserta didik sebagai prioritas tertinggi.
"Langkah ini diambil dalam kondisi luar biasa karena kualitas udara buruk, sehingga keselamatan dan kesehatan murid harus menjadi pertimbangan utama," ujar Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti.
Hasil pemantauan langsung ke sejumlah sekolah, seperti di wilayah Kecamatan Sambutan, menunjukkan bahwa proses penyampaian materi secara dalam jaringan belum sepenuhnya berjalan optimal.
Kunjungan lapangan mencatat timbulnya tantangan dalam memastikan seluruh anak mendapatkan pemahaman materi yang seimbang.
"Kalau ditanya apakah pembelajaran jarak jauh efektif, sebenarnya tidak sepenuhnya efektif karena muncul persoalan apakah anak-anak benar-benar mendapatkan materi pembelajaran atau hanya menerima tugas," tutur Puji.
Keterbatasan sarana pendukung berupa perangkat elektronik dan jaringan komunikasi menjadi kendala utama yang dialami oleh sebagian tenaga pendidik maupun murid. Ketimpangan akses ini berpotensi menyebabkan adanya perbedaan kualitas penerimaan pelajaran antar peserta didik.
"Tidak semua anak memiliki akses terhadap telepon seluler maupun internet, bahkan tidak semua guru memiliki laptop," ungkap Puji.
Di sisi lain, pembatasan ketat terhadap seluruh aktivitas siswa di area terbuka dinilai efektif dalam menekan risiko gangguan kesehatan akibat pencemaran udara.
Upaya pengajaran mandiri di sekolah-sekolah seperti SMP Negeri 23 dan SD Negeri 010 Samarinda terus dioptimalkan sesuai ketersediaan handphone masing-masing.
"Untuk kegiatan di luar ruangan, siswa memang tidak diperbolehkan beraktivitas dan kebijakan ini sudah baik untuk mengurangi paparan polusi udara," terang Puji.
DPRD Kota Samarinda menekankan pentingnya perhatian ekstra dari pihak sekolah untuk mengulas kembali pelajaran yang tertinggal sewaktu kegiatan belajar tatap muka kembali dibuka.
Pendampingan berkelanjutan sangat dibutuhkan mengingat durasi pembelajaran dari rumah ini berlangsung secara singkat menyesuaikan kondisi cuaca.
"Akses anak terhadap materi pembelajaran tetap harus diperhatikan agar proses pendidikan mereka tidak terganggu," pungkas Puji.(RHM)

0 Komentar