ringkasmedia.net, Samarinda – Fenomena keberadaan manusia silver di berbagai persimpangan jalan Kota Samarinda pada dasarnya berakar dari masalah perut dan kesulitan ekonomi warga.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, menilai sebagian masyarakat nekat turun ke jalan karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari di tengah sempitnya lapangan kerja.
“Kalau kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, fenomena manusia silver akan berkurang dengan sendirinya,” ujar Abdul Rohim menekankan pentingnya melihat akar persoalan tersebut.
Meski berlatar belakang masalah ekonomi, ia menegaskan bahwa penataan ketertiban kota tetap harus berjalan dan tidak boleh dilakukan sekadar formalitas sesaat.
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diminta untuk terus mengawasi area-area rawan agar aktivitas di perempatan jalan tidak menjadi kebiasaan yang terus berulang. “Penertiban harus dilakukan secara rutin dan konsisten, tidak cukup hanya sekali,” tegasnya.
Sebab menurut dia, hal ini untuk memastikan fungsi pengawasan lalu lintas dan ruang publik berjalan optimal.
Selain mengganggu ketertiban umum, aktivitas di lampu merah juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan maupun para manusia silver itu sendiri.
Oleh karena itu, pemerintah kota diminta memadukan ketegasan aturan dengan penyediaan lapangan kerja dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Langkah ini penting agar ketertiban umum tetap terjaga sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang lebih layak,” pungkas Abdul Rohim.(RHM)
0 Komentar