Profil Inspiratif: Muhammad Fauzan Amrillah, Dai Muda Kaltim yang Siap Berlaga di Aksi Indosiar Ramadan 2026

 


Muhammad Fauzan Amrillah bukan lahir dari keluarga pesantren atau lingkungan religius yang kuat. Ia lahir di Samarinda pada 17 Januari 2001, dan tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak mudah. Orang tuanya berpisah saat usianya baru menginjak dua tahun. Sejak itu, ia sangat jarang bertemu dengan sang ayah hingga akhirnya ayahnya wafat pada 2020.

Fauzan dibesarkan oleh sang ibu yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut. Cita-cita ibunya sederhana: melihat anaknya mengikuti jejaknya di dunia tarik suara. Namun jalan hidup berbicara lain. Keterbatasan akses pendidikan agama di masa kecil tidak membuatnya berhenti mencari arah. Justru dari situlah proses pencarian jati diri dimulai.

Sejak bangku SMA, Fauzan aktif mengikuti berbagai organisasi. Di ruang-ruang diskusi, forum kepemimpinan, hingga pelatihan pelajar, ia menemukan satu potensi besar dalam dirinya: kemampuan berbicara di depan umum. Tanpa pernah dirancang secara serius, ia mulai berkeliling ke berbagai sekolah memberikan pelatihan kepemimpinan, keorganisasian, hingga menjadi MC formal dan nonformal. Public speaking menjadi pintu pertama yang membentuk kepercayaan dirinya.

Namun, titik balik kehidupannya bukan soal panggung atau mikrofon. Ia pernah merenung dalam satu pertanyaan sederhana namun dalam: “Bagaimana caranya kemampuan ini bisa menghantarkan ibu saya ke surga?” Pertanyaan itu mengubah orientasi hidupnya. Dari sekadar kemampuan komunikasi, ia mulai mengarahkan potensi tersebut ke jalan dakwah.




Pertemuan dengan sahabatnya, Rudini, menjadi momentum penting. Sosok yang ia anggap seperti abang sendiri itu bersama beberapa sahabat lainnya membuka jalan, memberikan dukungan, dan menghadirkan lingkungan yang memperkuat langkahnya. Dari proses itulah Fauzan perlahan bertransformasi menjadi seorang pendakwah muda—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia rencanakan.

Perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Latar belakang keluarga, minimnya dasar pendidikan agama formal, serta perubahan arah hidup yang cukup drastis menjadi ujian tersendiri. Namun justru di situlah kekuatan narasinya terbentuk: dakwah bukan lahir dari garis keturunan, melainkan dari kesadaran dan proses.

Kini, Fauzan dikenal sebagai salah satu dai muda berbakat dari Kalimantan Timur. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, enerjik, dan dekat dengan generasi muda, ia membawa warna dakwah yang segar namun tetap menyentuh nilai-nilai spiritual yang mendalam.

Tahun ini, langkahnya semakin besar. Fauzan Amrillah akan mewakili Kalimantan Timur dalam ajang Aksi Indosiar Ramadan 2026. Sebuah panggung nasional yang mempertemukan dai-dai muda terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Fauzan, ini bukan sekadar kompetisi. Ini adalah bagian dari perjalanan panjang seorang anak yang ingin membalas perjuangan ibunya. Dari panggung sekolah hingga panggung nasional, dari organisasi pelajar hingga mimbar dakwah, kisahnya menjadi bukti bahwa takdir bisa berubah ketika niat diluruskan dan langkah terus diperjuangkan.

Ramadan tahun ini bukan hanya tentang perlombaan dakwah, tetapi tentang perjalanan seorang anak Samarinda yang menjadikan kemampuan berbicara sebagai jalan pengabdian.



0 Komentar