![]() |
| RDMP Balikpapan Sumber:https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/rdmp-kliang-balikpapan-targetkan-tkdn-30-35 |
BALIKPAPAN – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meresmikan penyelesaian fase krusial megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Selasa (13/1/2026). Peresmian ini menandai babak baru dalam sejarah energi nasional, di mana Indonesia kini berada di ambang kemandirian penuh untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Solar.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur fisik, melainkan simbol kedaulatan ekonomi bangsa. "Hari ini kita menyaksikan salah satu bukti nyata perjuangan kita menuju hilirisasi dan kemandirian energi. Dengan beroperasinya unit-unit baru di RDMP Balikpapan, kita tidak lagi hanya menjadi pasar, tetapi menjadi pemain utama yang mampu mengolah kekayaan alam sendiri," ujar Presiden di hadapan para menteri Kabinet Merah Putih dan direksi PT Pertamina (Persero).
Target Zero Import Solar 2026
Salah satu poin paling krusial dari peresmian ini adalah pengumuman mengenai penghentian impor Solar. Berdasarkan data teknis, RDMP Balikpapan berhasil meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Peningkatan kapasitas sebesar 100.000 barel ini secara otomatis menutupi celah defisit pasokan nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang turut mendampingi Presiden menyatakan bahwa mulai tahun 2026 ini, Indonesia secara bertahap akan mencapai status Zero Import untuk Solar. "Kualitas produk yang dihasilkan juga meningkat drastis menjadi standar Euro V, yang lebih ramah lingkungan dan berkualitas tinggi bagi mesin kendaraan rakyat kita," tambahnya.
Dampak Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Proyek RDMP Balikpapan yang merupakan proyek investasi terbesar dalam sejarah Pertamina ini memberikan dampak multiplier effect yang signifikan bagi Kalimantan Timur. Selama masa konstruksi puncaknya, proyek ini melibatkan lebih dari 20.000 tenaga kerja, dengan prioritas pada tenaga kerja lokal.
Bagi Kota Balikpapan, keberadaan kilang yang semakin modern ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Presiden menekankan pentingnya sinergi antara industri besar seperti Pertamina dengan pelaku UMKM di sekitar wilayah operasi. "Saya ingin kemajuan teknologi di kilang ini juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Balikpapan melalui program pemberdayaan dan penyerapan produk lokal dalam rantai pasok industri," tegas Prabowo.
Teknologi Canggih dan Keberlanjutan
Direktur Utama Pertamina menjelaskan bahwa RDMP Balikpapan kini dilengkapi dengan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi seperti LPG dan bensin berkualitas tinggi. Teknologi ini memastikan efisiensi operasional kilang meningkat pesat, sehingga biaya produksi per barel menjadi lebih kompetitif dibandingkan harga pasar internasional.
Selain itu, kilang ini juga didesain untuk fleksibilitas pengolahan minyak mentah (crude oil). Kilang kini mampu mengolah minyak mentah dengan kandungan sulfur tinggi yang harganya lebih murah di pasar dunia, namun tetap menghasilkan produk akhir yang bersih dan sesuai standar lingkungan global.
Langkah Menuju Swasembada Energi
Peresmian ini menutup rangkaian panjang pembangunan yang sempat menghadapi tantangan logistik global dalam beberapa tahun terakhir. Dengan selesainya RDMP Balikpapan, pemerintah kini memfokuskan perhatian pada pengembangan kilang-kilang lainnya di Indonesia, seperti di Tuban dan Dumai, guna memastikan visi Swasembada Energi 2029 dapat tercapai lebih cepat dari jadwal.
Acara peresmian ditandai dengan penekanan sirine dan penandatanganan prasasti oleh Presiden Prabowo Subianto, yang kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke area Control Room kilang yang telah menggunakan sistem digitalisasi penuh.

0 Komentar