Greenland di Persimpangan Geopolitik: Ketegangan di Arktik Meningkat di Awal 2026

Greenland, Ringkasmedia.net— Pulau terbesar di dunia, Greenland, kini menjadi medan geopolitik penting yang menarik perhatian dunia di awal 2026. Wilayah otonom Denmark yang terletak di jantung Arktik ini berada di bawah sorotan tajam seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan kekuatan global lainnya terkait masa depan keamanan dan kedaulatan kawasan tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan bahwa AS “membutuhkan Greenland demi keamanan nasional” telah memicu respons tegas dari Denmark dan sekutunya. Trump berulang kali mengatakan bahwa Denmark tidak mampu melindungi Greenland dari potensi ancaman Rusia dan China, dan menyatakan perlu ada keterlibatan lebih besar dari Washington.

Namun, respons dari Eropa menunjukkan diplomasi yang lebih kuat dan penolakan tegas atas kemungkinan perubahan kedaulatan. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, memperingatkan bahwa setiap upaya Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland secara paksa — tanpa persetujuan Kopenhagen dan Nuuk — dapat menjadi “akhir dari NATO”. Rasmussen menegaskan bahwa langkah semacam itu akan mencederai hubungan antara sekutu-sekutu Atlantik dan merusak kepercayaan dalam aliansi pertahanan tersebut.

Sejalan dengan itu, kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan Arktik memicu aksi nyata dari negara-negara Eropa. Baru-baru ini, Jerman mengirim 13 personel militer ke Greenland dalam misi pengintaian multinasional untuk mengevaluasi kontribusi keamanan bersama dengan Denmark, di bawah kerangka undangan Kopenhagen. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kehadiran militer dan kerja sama di kawasan Arktik, yang semakin strategis karena perubahan iklim dan potensi sumber daya alamnya.

Serentak, sekutu NATO lainnya dari Uni Eropa juga meningkatkan dukungan politik dan militer untuk Greenland. Kementerian Pertahanan Denmark mengonfirmasi peningkatan kehadiran kapal, pesawat, dan personel militer di dalam dan sekitar wilayah tersebut, bekerja erat dengan sekutu seperti Prancis, Swedia, dan Norwegia.

Selain aspek militer, dimensi diplomatik juga memanas. Prancis akan membuka konsulat di Nuuk pada 6 Februari 2026, sebuah langkah yang dilihat sebagai sinyal dukungan yang lebih kuat terhadap stabilitas dan keterlibatan Eropa di Arktik — sekaligus menegaskan bahwa wilayah tersebut tidak akan menjadi objek kompetisi kekuatan besar semata.

Sementara itu, para pemimpin politik Greenland dan Denmark berulang kali menegaskan bahwa masa depan pulau ini harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan melalui tekanan eksternal atau penjualan teritorial. Pernyataan mereka menepis narasi tentang ancaman militer dari Rusia atau China di wilayah ini, menekankan bahwa tidak ada bukti signifikan aktivitas militer mereka dekat Greenland.

Kawasan Arktik sendiri semakin strategis seiring mencairnya es laut akibat perubahan iklim, membuka jalur pelayaran baru dan kemungkinan akses ke sumber daya mineral yang sebelumnya sulit dijangkau. Kondisi ini memperkuat alasan di balik meningkatnya kepentingan berbagai negara terhadap kawasan tersebut.

Pada akhirnya, dinamika yang berkembang di Greenland pada awal 2026 bukan sekadar tentang persaingan pengaruh kekuatan besar. Ini juga mencerminkan tantangan diplomasi multilateral di era baru — di mana kedaulatan, aliansi, dan hukum internasional diuji oleh perubahan strategis dan iklim global yang cepat berubah.

0 Komentar